Tampilkan postingan dengan label simbolisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label simbolisme. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 September 2014

Kerajaan Hati: Tentang Resonansi



Notes:
Sebenernya, udah dari lama saya kepengen bikin cerita romance dimana kedua tokohnya secara sadar saling mencari, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Dan setelah dengerin lagu Last Romeo-nya Infinite, somehow saya ngedapetin feel yang tepat buat nulis, plus ide buat ngejadiin konsep itu sebagai salah satu cerpen Kerajaan Hati. Dan ternyata (saya sih berasanya) pas, mengingat naturenya proyek KH ini yang memang-harus-surealis-karena-simbolis. Yes, in case you didn't realize it, cerpen-cerpen Kerajaan Hati saya selalu dimaksudkan sebagai analogi dari hal-hal yang biasa terjadi berkenaan dengan romance. Yang ini pun juga.

Ngomong begitu pun, ini jadinya nggak semenyentuh yang saya rencanain. :( Entah emang sayanya yang kurang mateng mikirinnya, atau masalahnya pada style narasi saya yang emang makin kesini makin shitty. Still, saya senang karena akhirnya salah satu ide liar saya terwujud menjadi sebuah tulisan.

Udah pernah saya post di facebook sebelumnya. Ada beberapa revisi sebelum sampai disini, tapi minor doang. Hope whoever reading this can enjoy.
 
***

Sabtu, 24 Mei 2014

Kerajaan Hati: Tentang Apel Yang Dilarang


(Cerita ini ditulis dalam rangka kegiatan #ApplesWeekly pertama dengan tema: "makan apel". Dipersembahkan dengan sepenuh cinta untuk para Apples LCDP~ <3 )


***



Apel adalah buah yang paling jahat.



Begitulah alasan yang dikemukakan semua orang setiap kali Pangeran menanyakan sebab mengapa Raja melarang adanya Apel di kerajaan ini. Biasanya, kemudian dia akan bertanya lagi, “Kenapa disebut jahat?”



“Karena dia adalah buah yang selalu meminta, Pangeran,” jawab Pengawalnya pada suatu hari. “Apel hanya memberi dagingnya supaya dia bisa datang meminta lagi, dan lagi.”



“Aku tidak mengerti.”



“Tentu saja, Pangeran kan belum dewasa.” Pengawal menertawainya.



Pangeran tidak sabar ingin segera beranjak dewasa. Buatnya, menjadi dewasa kedengaran seperti akan membantunya memahami banyak hal yang sekarang tidak dia pahami. Bukan hanya tentang Apel—meskipun Pengawal bilang mungkin akan lebih baik jika dia tidak memikirkannya lagi, tetapi juga tentang Upacara Pertukaran, misalnya.



“Kata Ayah, aku akan jadi Raja setelah melakukan Pertukaran,” ceritanya. “Seperti apa sih Pertukaran itu?”



“Pertukaran artinya menukarkan Jantung Hati-mu dengan Jantung Hati orang lain...”



“Bukankah itu artinya aku akan terpisah dengan Hati-ku?” Pangeran bertanya keheranan. “Sepertinya menyakitkan. Lagipula, aku tidak yakin aku mau mempercayakan Jantung Hati-ku kepada orang lain...”



“Oh Pangeran, kau tidak tahu. Pertukaran adalah hal paling indah yang bisa dialami seseorang dalam hidupnya,” Pengawal menjawab sabar.



“Begitukah?”



Sekarang, keraguan Pangeran terdengar bercampur dengan perasaan antusias.



“Kuharap bisa secepatnya, kalau begitu. Aku sungguh ingin tahu...”



Mendengar ini, Pengawal hanya tersenyum.



***